nissh @switensor
Joined October 2022-
Tweets433
-
Followers6
-
Following7
-
Likes878
Saya ada cerita seorang bapak. Dia kerja 20 tahun buat biayain anaknya kuliah S1. Lembur. Utang. Sampai jual tanah warisan. Anaknya lulus. IPK bagus. Wisuda lengkap dengan toga. Sekarang anaknya kerja serabutan. Gaji di bawah UMR. Dan si bapak masih senyum bilang, "Mungkin belum rezekinya." Yang bikin saya merenung bukan cerita anaknya. Tapi cerita si bapak. Dia lahir tahun 70-an. Gak tamat SMA pun bisa buka toko, punya rumah, besarin anak dengan layak. Logikanya simpel dan masuk akal: "Dulu gw gak sekolah tinggi aja bisa. Kalau anak gw kuliah, hidupnya pasti jauh lebih baik dari bapaknya." Logika itu benar. Di zamannya. Masalahnya bukan orang tua yang salah didik. Bukan juga anaknya yang kurang usaha. Tapi janji yang mereka pegang sudah kedaluwarsa. Ijazah dulu adalah tiket. Sekarang ijazah adalah syarat minimum. Yang bahkan kadang pun masih belum cukup. Dua hal yang kelihatannya sama, tapi sebetulnya beda jauh. Bayangin ya. Tahun 1995, fresh graduate langsung diperebutkan perusahaan. Sekarang, lowongan entry level minta pengalaman 2 tahun, skill digital, bisa multitasking, dan siap ditempatkan di mana saja. Gajinya? UMR aja belum tentu. Hampir sama kalau dikonversi ke harga waktu itu. Tapi harga rumah, kontrakan, dan beras sudah tidak ikut berdiam di angka yang sama. Generasi 90-an pasti hafal nasihat ini: "Rajin sekolah, biar dapat kerja bagus." "Kuliah dulu, baru enak hidupnya." "Investasi terbaik itu pendidikan." Nasihat itu bukan bohong. Di zamannya, itu benar dan terbukti. Tapi zamannya sudah ganti. Nasihatnya tidak ikut ganti. Dan anak-anak kita tumbuh sambil pegang peta zaman dulu yang sudah tidak cocok sama jalanan yang mereka hadapi sekarang. Saya pernah ngobrol panjang sama seorang teman. Dia cerita, "Bokap gw sampai jual motor buat bayar UKT semester terakhir gw." Saya tanya, "Sekarang kerjanya apa?" "Freelance desain. Kadang ada job, kadang enggak." "Bokap lu tau?" "Tau. Dia bilang sabar, rezeki ada aja. Tapi gw liat matanya... dia bingung." Si bapak bingung bukan karena anaknya gagal. Tapi karena cara yang dulu berhasil sekarang tidak lagi bekerja. Dan dia tidak punya peta baru untuk dikasih ke anaknya. Kalau anakmu masih sekolah atau mau kuliah, jangan cuma pikirin jurusannya. Tapi ajarin juga: 1. Ajarin dia cara kerja uang sejak kecil. 2. Bekali satu skill konkret yang bisa langsung menghasilkan. Sebelum dia lulus dan bingung mau mulai dari mana. 3. Kasih ruang buat gagal kecil sekarang. Biar dia gak gagal besar pertama kali justru di dunia nyata. 4. Jangan cuma bekali ijazah. Bekali juga kemampuan bertahan. Bukan berarti kuliah tidak penting. Tapi kuliah saja sudah tidak cukup. Soalnya begini. Orang tua yang paling menyiapkan anaknya bukan yang paling banyak bayar biaya kuliah. Tapi yang paling jujur bisa ngomong ke anaknya: "Dunia yang kamu masuki berbeda dari dunia yang Ayah dan Ibu kenal. Kita harus cari tau bareng-bareng." Kejujuran itu lebih berharga dari SPP mana pun. Dan seperti biasa, selalu ada dua kubu. Kubu pertama bilang, "Orang tua salah. Harusnya ajarin skill, bukan kejar gelar." Kubu kedua bilang, "Orang tua sudah benar. Anaknya yang kurang mau usaha." Tapi ada kemungkinan ketiga yang jarang ada yang mau nyebut: Dua-duanya sudah berusaha sebaik yang mereka bisa dengan informasi yang mereka punya. Tapi sistemnya yang tidak pernah jujur ke keduanya. Generasi kita mungkin adalah generasi pertama yang hidupnya lebih susah dari orang tuanya. Bukan karena malas. Bukan karena manja. Tapi karena peta yang diajarkan ternyata sudah tidak relevan saat mereka datang. Dan orang tua mereka masih dengan tulus menunjuk ke peta yang didapat dulu.
@kevinsebast_ teachsales harus pinter banget komunikasi in english yaaa?☹️
Tiap ada bayi lahir, doanya selalu "Semoga jadi anak yang berguna bagi nusa, bangsa, dan agama." Jarang banget dengar orang tua yang doanya begini: "Semoga aku bisa jadi rumah yang nyaman buat dia, bisa menjamin pendidikannya, dan memastikan dia tumbuh di lingkungan yang sehat." Harusnya kita dulu yang berjanji ke dia, bukan dia yang dituntut buat dunia.
Gue punya temen yang pertama kali merantau ke Jakarta, dia masuk kerja di salah satu kantor di pusat kota. Hari pertama, dia langsung ngerasa salah tempat. Bukan karena dia nggak kompeten, tapi karena lingkungannya beda banget. Orang-orang di kantornya ngomong campur Inggris, santai bahas kuliah di luar negeri kayak University of New South Wales atau Monash University, seolah itu hal biasa. Sementara dia? Dari kampus daerah, nongkrongnya dulu kopi sachet, mainnya kartu sama temen-temen. Kontrasnya kerasa banget. Hari pertama aja dia udah minder. Dia cerita ke gue, Gue ngerasa paling nggak nyambung di ruangan itu. Bahkan hal simpel kayak nanya kuliah di mana bisa jadi awkward, karena jawabannya beda dunia. Dia sempet mikir kalau dia kurang pintar, kurang keren, bahkan sempet kepikiran apa gue nggak pantes di sini ya? Tapi makin lama dia mulai sadar sesuatu yang cukup nendang. Ternyata bukan dia yang kurang tapi banyak dari mereka emang udah punya start lebih dulu. Dari SMA udah di luar negeri, udah biasa presentasi, udah terbiasa ngomong dengan cara yang terdengar pintar. Jadi pas masuk kerja, mereka keliatan langsung siap. Sementara temen gue? Baru belajar semua itu dari nol di dunia kerja. Yang bikin dia makin kaget, ada beberapa orang yang keliatannya santai banget, kerjanya nggak terlalu keliatan, tapi posisinya aman. Setelah dia cari tahu pelan-pelan, ternyata background keluarganya bukan kaleng-kaleng. Dari situ dia mulai ngerti, di Jakarta itu bukan cuma soal kerja keras tapi juga soal lu mulai dari mana. Dia juga pernah cerita pengalaman lain yang bikin dia makin kebuka matanya. Pernah dia kerja di tempat yang secara logika bisnis nggak masuk akalnggak jelas profitnya, tapi tetap jalan terus. Dia sampe nanya ke seniornya, ini kok bisa hidup ya? Jawabannya simpel, “Udah, nggak usah dipikirin. Beda dunia. Di situ dia sadar, buat sebagian orang, kerja atau bisnis itu bukan buat bertahan hidup, tapi cuma aktivitas Tapi justru dari semua itu, yang paling berubah dari dia bukan skill teknis tapi cara dia melihat diri sendiri. Awalnya dia minder, ngerasa kecil. Tapi lama-lama dia mulai ngerti dia mungkin nggak punya privilege yang sama, tapi dia punya daya tahan yang nggak semua orang punya. Dia terbiasa adaptasi, belajar dari nol, dan itu pelan-pelan jadi kelebihan. Sekarang, setelah beberapa tahun, dia bilang ke gue satu hal yang cukup pedas tapi jujur Di Jakarta, lu bakal ketemu orang yang keliatan jauh di atas lu. Tapi bukan berarti mereka lebih hebat kadang mereka cuma mulai lebih dulu. Tugas lu bukan ngejar mereka, tapi jangan berhenti jalan. Dan menurut gue itu poin paling real dari merantau.
@RUMROIJEN dari dulu pengen bgt ngonten gini, bingung niche nya apa. harus mulai telaah keseharianku dan jadiin personal branding bgt ini
orang zaman sekarang tuh kalah sama GENGSI ‼️ padahal kalo berani cringe, berani angkat kamera di tengah orang-orang yang natap tajem (nilai plus kalo kuat mental dihujat perkara baju lo aneh) percayalah, bakal banyak kesempatan emas yang bisa kamu dapetin 😋❤️
Awal tahun kemarin mutusin jadi cringe, yang akhirnya ngebuka banyak opportunity collab sm banyak brand dan msh berlanjut sampai di tahun ini, dan semoga terus berlanjut. To be cringe is to be free, as long the cringe is harmless for u and other people.
ada ga sih kerja yg interview nya santai aja dan keterima. udah di tahap muak ngikutin berbagai tips dan berujung unhire
FINAL INTERVIEW. Mereka tanya: "Kenapa kami harus hire Anda?" Otak lo blank. Lo jawab "saya pekerja keras dan mampu bekerja di bawah tekanan." Interview selesai. Lo gak dapet offer. Ini yang sebenernya mereka mau denger:
@muggleindaeyo idolaaa anak2 kelahiran 90an akhir
@yqounger brand baby and kids tempat kerjaku, mostly katun dijamin anti panas dan masih oke dipake after lebaran buat daily. coba deh check Qna dan Pito Dito, available di Matahari kak
@kangucupsss showimahh, corla dan bunda rita dong
@kompascom prilll aku cari kerja dari 2022 lohhh prill. jangan gitu nappa
belum pernah yg creamcheese. boleh nih kayaknya
Daripada bingung, aku ambil ketiganya 😭👍🏻 Ada yang mau? Gassss reply / quote aja bebs, nanti aku tiap hari scroll-in ya. Aku dm duluan 😻 1 hari aku dm 1 orang, ini berlangsung setiap hari sampai lebaran 🫶🏻 xixixixi
@masjalah buat numbuhin rambut rontok parah biar kuat dan tumbuh cepet worth it ga itu kak?
haerina @aliasdilak
249 Followers 267 Following
Azka Nurun Ala @Azka_NurunAla
70 Followers 722 Following Ready to boost productivity and hit your goals faster? https://t.co/jrWvnFnU4o
TUGO English @EdukasiMendunia
7 Followers 45 Following We provide various English programs Available for self-study and 1-on-1 learning.
ENGEDIN Learning Engl... @EngedinE
2K Followers 3K Following This site teaches all grammar topics for free with comprehensive grammar education content and makes vocabulary learning permanent with the Vocabulary Card tab.
♡ @pretygurlls
74K Followers 46 Following
Risang Pradipta @rsngprad
28K Followers 5K Following Praktisi Digital Marketing dan Social Media | Full Time WFH Enthusiast | Join komunitas Creative - WFH - Digital di bawah 👇🏻
ApplyAjaDulu @Applyajadulu
41K Followers 2K Following 💼Tempat ngumpulnya Lowker Asia Tenggara/UAE berkualitas dan valid. ✨Suka bagi-bagi insight kerja di luar negeri
bu-na 姊姊 🌸 @Bunaspace
43K Followers 3K Following ꒰ 🍵 ꒱ prev prctiu || Dm for collab ˚˖𓍢ִ໋🦢˚ || vouch #TestiBunaR || TG : prctiubuna
Your Tech Girl @yourtechgirl24
43K Followers 152 Following 👉 Tech reviews, AI tips & hacks for creators & founders | DM or Mail for Collabs 📥 [email protected]










